Pendaki Jogja

Mengikuti Kata Hati Menapaki Bumi

SEKELUMIT KISAH

Ada sebuah perkataan yang tak pernah terlupakan, ketika itu saya akan ikut melakukan pendakian pertama kali 14 tahun yang silam ke Gunung Slamet.dan itu menjadikan candu untuk selalu ingin mendaki gunung ketika ada waktu luang ataupun sekedar camping di kaki gunung. Ketika itu saya sedang mempersiapkan SURVIVAL KIT dan MEDICAL KIT. Dengan berpanduan pada buku pramuka yang saya pinjam dari senior.( maklum, baru pertama kali dan diwajibkan untuk membawa perlengkapan yang komplit.)“ TIDAK USAH IKUT-IKUTAN NAIK GUNUNG, BERBAHAYA” kata ibuku.sedangkan bapak cuek aja karena dia sendiri suka akan berpetualang di alam . Memang mendaki gunung adalah salah satu kegiatan yang memang selalu di selimuti dengan bahaya. Tapi tekad sudah bulat, rasa keingin tahuan “ seperti apa rasanya mendaki gunung ??? “

setelah lulus SMA dan hijrah ke kota Gudeg Jogja, kesenangan untuk mendaki gunung semakin meningkat banyak ucapan-ucapan yang kadang membuat saya tersenyum dari orang-orang sekitartentang aktivitas ini. “ kamu itu salah hobi, mending di rumah. Enak tidur di kasur empuk”. “Buat apa ngabisin uang buat naik gunung, gak ada gunanya”. “ dapatnya apa sih naik gunung, paling capek”. Dan masih banyak lagi perkataan dan pertanyaan yang menggelitik yang terkadang hanya bisa di jawab dengan senyuman. Pertanyaan itu muncul karena mungkin mereka belum pernah merasakan “BETAPA INDAHNYA SEOLAH KITA BERDIRI DIATAS AWAN DAN MENCAPAI TITIK TERTINGGI KEPUASAN DALAM MENIKMATI INDAHNYA CIPTAAN YANG KUASA DAN BETAPA KITA SEPERTI BEGITU DEKAT DENGANNYA“.

Mendaki gunung menjadi semacam simulasi kehidupan ketika kita berjuang bukan mengatasi tingginya mendakian atau curamnya tebing, melainkan mengatasi diri kita sendiri. Saat itulah, pada titik ekstrem kelelahan, kita tahu batas keberadaan di dunia. Saat turun dengan selamat, kita membawa diri kita yang baru, karena telah menemukan kembali saat tiba di puncak. ( Tantyo Bangun,NGT Vol. 1 No.8, 2009)
Dalam mencapai sebuah keindahan dalam pendakian tentu tidak mudah. Banyak tantangan yang memang harus kita lewati, tentu tidak hanya sebatas menguji nyali tapi juga kesiapan mental dan juga kesabaran kita dalam perjalanan.dalam pendakian inilah kita harusnya tahu rasanya menghargai alam, karena kita barusaja keluar dari sebuah rutinitas keseharian, kemewahan teknologi yang berganti dengan kesederhanaan, apa adanya yang tidak mungkin akan ditemui di lingkungan perkotaan.

Banyak sekali tulisan ataupun karya-karya yang di ilhami dari tingginya puncak gunung ataupun dalamnya lembah dan indahnya matahari terbit. Bahkan suka dan duka dalam sebuah perjalanan pendakian pun akan menuntut kita untuk saling menghargai rekan seperjalanan, saling menjaga dan saling percaya. Saling pengertian inilah yang akan menuntun kita lebih bijak dalam menghadapi berbagai hal tantangan alam. “MENDAKI GUNUNG SEJATINYA ADALAH BAGAIMANA CARA KITA MENGAGUMI BENTUK SEBENARNYA BUMI DAN MENIKMATI INDAHNYA TABURAN BINTANG-BINTANG DAN BAYANGAN POHON DIMALAM HARI KARENA ALAM MEMANG TAK AKAN PERNAH BISA KITA TAKLUKAN”.

Banyak sekali dan berbeda-beda tentunya antara ritual pendaki yang satu dengan yang lain ketika mencapai tujuan pendakian yaitu puncak gunung. Pernah saya mengantar seseorang yang ingin mendaki gunung dan itu awal dari dia menjadi ketagihan untuk mendaki. Pada pendakian yang kesekian kali baru menyadari dan menanyakan pada rekan yang lain. “ Kenapa saya tidak mau diajak berjabat tangan ketika baru saja mencapai puncak”. “ tapi lihatlah. Dia akan bersujud syukur dulu, entah apa yang dia lakukan tapi itulah salah satu kebiasaannya, nanti juga berjabat tangan” kata teman saya. Memang yang saya lakukan mungkin dianggap janggal bagi sebagian orang. itulah ritual yang saya lakukan.bersujud pada yang Kuasa terlebih dahulu seakan mempunyai arti bagi saya dan baru saya akan barjabat tangan dengan rekan-rekan yang lain Dalam pikiran saya karena-Nya lah saya dan rekan-rekan bisa sejauh ini mencapai puncak dan saya pun memohon untuk keselamatan saya dan teman yang lain dalam perjalanan pulang.
Ada seorang teman juga mempunyai ritual lain.” Akan selalu duduk bersila menghadap kiblat selama 5 menit dalam kondisi mata terpejam dan diam” bahkan dalam kelompok saya yang nota bene sering melakukan pendakian ke Merbabu pun mempunyai ritual” yaitu berjalan mengelilingi “WATU LUMPANG” di puncak Kenteng Songo sebanyak sembilan kali berlawan dengan arah jarum jam.
Itulah berbagai cara atau ritual yang berbeda-beda dalm mengekspresikan diri kita tentang keindahan alam yang tentunya belum tentu akan terulang berbagai keindahan pendakian di kemudian hari. “ DI BALIK KEINDAHAN GUNUNG DAN KEMEGAHANNYA PASTI MENYIMPAN SEBUAH MAKNA DAN BAHAYA YANG TEK PERNAH BISA KITA DUGA” ( Awang Mei 2011)

23/05/2011 - Posted by | CAMPING, gunung, Gunung tertinggi, JALUR PENDAKIAN, mountain, umum

13 Komentar »

  1. like this yo,,, hehe

    Memang mereka tidak akan pernah bisa mengerti akan makna kebersamaan yang sesungguhnya sebelum mereka merasakan mendaki sebuah gunung,, karna disitulah kebersamaan itu muncul dengan alami tanpa ada rekayasa,,

    salam Rimba,, aja yah,, ^.^

    Komentar oleh siGadispengembala | 19/06/2012 | Balas

  2. bg rinto pye kbre wer?

    Komentar oleh vespa abang plat k | 01/08/2012 | Balas

    • sehat OM… Kapan main ke jogja, mampir yo

      Komentar oleh Pendaki | 23/10/2012 | Balas

  3. setuju gan…saya masih pemula,,, karna baru lulus SMK,,,petualangku baru di skitar g lawu,,, tapi ssy ingin dng gnung yg lainnya,,, krna stelah mersakan puncak lawu ingin sekali ke puncak yg lain…. sungguh damai yg tak ada duanya kalo lagi di puncak gunung…

    salam lestari😀

    Komentar oleh ali ch rimba | 13/09/2012 | Balas

    • siiip…. Salam lestari ya… cuma mengharapkan untuk bisa tetap menjaga keasrian lingkungan ya.

      Komentar oleh Pendaki | 23/10/2012 | Balas

  4. Wah rasanya pasti enak ya… sayang saya belm pernah bisa berpetualang seperti itu. Kalau dulu ibu tdk mengijinkan, alasan skrg karena sdh jadi ibu jadi nti anak tdk ada yang urus😀. mungkin klo anak2 sdh pada besar dan mau ngajak ibunya berpetualang.

    Saya bisa dikunjungi di; http://bit.ly/XIpS1f

    Komentar oleh c4tc1l | 31/10/2012 | Balas

    • ya,,, ada enak dan tidak enaknya. tapi setidaknya di bisa melengkapi pengalaman dalam kehidupan.
      trim dah berkunjung

      Komentar oleh Pendaki | 09/12/2012 | Balas

  5. memang ketika kita pengen mendaku gunung harus ikut kegiatan pecinta alam ya….

    Komentar oleh nurjanah | 21/12/2012 | Balas

    • setidaknya harus tahu materi tentang perjalanan untuk adventure atau mendaki, etika ketika di gunung. kalau untuk ikut organisasinya saya rasa tidak harus. tapi disarankan apa bila ingin mendaki ajaklah yang sudah berpengalaman mendaki dan pernah mendaki gunung yang akan di daki. sebagai pemandu lah istilahnya. trim dah mampir…

      Komentar oleh Pendaki | 27/12/2012 | Balas

  6. saya dulu sempat ditempa di jogja, pernah gabung dgn Palawa, ASC tahun ’92 , sekarang udah ngga sempet lagi man kesana

    Komentar oleh pinjaman tanpa agunan | 02/05/2013 | Balas

  7. Tanya ms. itu yang pakai Ransel merah di photo berempat, bener ngak namanya Iyung dr Sum-sel – Baturaja Barat dulu pernah kuliah di Jogja ? makasih. Salam Lestari

    Komentar oleh Sutrisno | 10/10/2014 | Balas

    • bukan om. itu anak jogja asli kok.

      Komentar oleh Pendaki | 07/12/2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: